Jun 01

Menanam Benih Persahabatan di Makassar Berkebun

Asyiknya Berkebun

Asyiknya Berkebun

Gerakan Makassar Berkebun berjalan lancar. Banyak pihak yang kemudian tertarik untuk ikut meneteskan peluh dan bermain dengan tanah.

Pagi itu langit Makassar agak mendung, matahari bersinar malu-malu. Di pinggiran kota, tepatnya dekat sebuah perumahan di tepi pantai sekelompok anak muda sedang asyik bercengkerama. Beberapa orang di antara mereka memegang cangkul, ada yang memegang ember berisi air serta alat penyiram berwarna hijau. Sesekali gelak tawa terdengar di antara mereka.

Merekalah sekelompok anak muda yang menyebut diri mereka Makassar Berkebun. Sebuah komunitas yang belum genap setahun di kota Makassar. Awalnya dari sindiran, kenapa Makassar yang salah satu kota besar di Indonesia belum ikut gerakan Indonesia berkebun. Gerakan ini sendiri adalah gerakan yang bertujuan untuk memanfaatkan lahan tidur di perkotaan untuk dimanfaatkan sebagai kebun atau yang lebih dikenal sebagai urban farming. Gerakan ini menjalar ke semua kota besar di Indonesia kecuali Makassar waktu itu.

Berawal dari sindiran itulah beberapa anak muda kemudian saling sahut-sahutan di twitter. Mereka tergoda untuk membuat gerakan yang sama di Makassar. Dari sahut-sahutan itu kemudian berkumpullah mereka di Green Kitchen membahas kelanjutan niat untuk ikut ambil bagian dalam idberkebun. Berbekal satu tujuan, mereka kemudian mulai menginisiasi Makassar Berkebun. Sampai di sini jalan masih mudah. Hambatan baru muncul ketika mereka mencari lahan untuk berkebun. Meski gerakan ini beredar di social media, tapi bukan berkebun namanya kalau tidak ada lahan yang bisa ditempati untuk berkebun.

Mulailah mereka mencari lahan. Tentu bukan hal mudah, apalagi di kota besar seperti Makassar. Lahan kosong masih ada, tapi belum tentu pemiliknya mau memberikannya secara cuma-cuma untuk dipakai berkebun. Di Makassar, lahan kosong akan lebih bermanfaat bila ditanami beton dan jadi ruko. Mereka bergerilya, lebih banyak melalui twitter untuk mencari tahu siapa orang yang mau berbaik hati memberikan lahan kosong mereka untuk dipakai berkebun.

Dari kicauan ke kicauan hingga akhirnya tiba di hadapan seorang penerus klan Aksa pemilik sebuah korporasi besar di kota Makassar. Kebetulan sekali ibu Melinda juga sedang mencari anak-anak muda yang mau jadi penggerak Makassar Berkebun. Seperti pepatah, gayung bersambut.

Ibu Melinda mempersilakan anak-anak Makassar Berkebun memilih salah satu lahan milik Bosowa Grup yang banyak bertebaran di kota Makassar. Setelah menimbang ke sana ke mari, akhirnya pilihan jatuh pada sebuah lahan kosong di daerah Tanjung Bunga. Selesai sudah pencarian mereka. Lahan inilah yang digunakan terus hingga sekarang.

Blogger ikut mencangkul

Blogger ikut mencangkul

Pagi itu saya mengobrol banyak dengan Rizky, salah seorang penggerak Makassar Berkebun. Selain Rizky yang saya kenal ada seorang komikus Makassar yang memang punya latar belakang pertanian. Namanya Wahyu. Mereka berdua bersama belasan anak-anak muda lainnya setiap sabtu dan minggu pagi selalu giat mencangkul di atas lahan yang sudah mereka siapkan.

Di antara para penggiat Makassar Berkebun, katanya hanya 10% yang benar-benar punya latar belakang pertanian atau minimal mengerti cara berkebun. Sisanya sama sekali tidak tahu, murni hanya berbekal keinginan untuk berkebun.? Tapi itu bukan masalah tentu saja, toh ada tutor yang selalu siap membimbing mereka.

Anak-anak Makassar Berkebun juga baru saja mengikuti Akademi Berkebun yang diadakan oleh idberkebun. Dalam acara itu mereka jadi banyak tahu tentang teknik bertani yang benar.

Sampai saat ini mereka sudah panen sebanyak 10 kali. Tanaman yang mereka tanam memang tergolong tanaman jangka pendek seperti sawi, kangkung, selada dan lain-lain. Hasil panen mereka tidak diperjualbelikan dan hanya dibagi-bagikan kepada siapa saja yang mau. Dari awal mereka memang tidak pernah berniat untuk mengeruk keuntungan dari aksi berkebun di dalam kota itu meski sekarang sudah ada rumah makan yang bersedia menampung hasil panen mereka.

Gerakan Makassar Berkebun berjalan lancar. Banyak pihak yang kemudian tertarik untuk ikut meneteskan peluh dan bermain dengan tanah. Fadly sang vocalist band PADI sendiri pernah turun langsung berkebun bersama anak-anak Makassar Berkebun. Di lahan mereka sekarang tersedia bedeng khusus untuk siswa-siswa sekolah Dian Harapan, juga untuk teman-teman dari Blogger Makassar.

Pagi itu pertamakalinya saya ikut berkebun bersama mereka meski saya sendiri lebih banyak duduk dan memotret kegiatan mereka. Ada sesuatu yang saya tangkap dari interaksi mereka. Ada keceriaan dan persahabatan hangat yang mengalir deras. Saya membayangkannya sebagai benih yang ditanam seperti mereka menanam benih kangkung di hari itu. Suatu hari nanti mereka akan memetiknya, hasil dari sebuah ketulusan.

Ah, senang sekali berada di antara anak-anak muda yang rajin berkebun ini.

Tulisan ini diambil dari blog Ketua Komunitas Blogger Makassar, Dg. Ipul

Apr 17

Pekan Hijau (street urban farming)

image

Pekan Hijau merupakan rangkaian kegiatan yang dilaksanakan oleh Makassar Berkebun dalam rangka Hari Bumi tanggal 22 April 2012. Lokasi kegiatan dilaksanakan pada median dan tepi jalan Kawasan Metropolitan Mamminasata (meliputi Jalan AP. Pettarani, kota Makassar dan Jalan Tun Abdul Razak, kabupaten Gowa).

Aksi penanaman pohon di ruang publik telah sering dilaksanakan oleh pemerintah, swasta dan organisasi-organisasi masyarakat. Menurut pengamatan kami, sebagian besar median dan tepi jalan di kota Makassar telah disentuh oleh kegiatan penanaman pohon. Sehingga ruang kosong amat sulit ditemukan. Berdasarkan hal inilah, kami memutuskan untuk fokus pada kegiatan perawatan pohon. Kegiatannya antara lain : pencabutan paku di batang pohon, pembersihan median jalan, dan penggantian pohon yang telah mati dengan bibit pohon yang baru.

Komunitas dan organisasi yang akan menghadiri kegiatan PEKAN HIJAU antara lain : Earth Hour Makassar, Komunitas Blogger Anging Mammiri, Gerakan Makassar Tidak Kasar, KPAJ Makassar, Milanisti Indonesia Sezione Makassar, Kompas Muda Makassar, SD BUKIT BARUGA Makassar, dan Gafatar.

RUNDOWN #PEKANHIJAU MAKASSAR BERKEBUN

Sabtu, 14 April 2012, pukul 06.00 WITA: packing bibit yang akan dibagikan pada hari H, bertempat di kebun #2 Makassar Berkebun, Jalan Bonto Makkio No 22. Lokasi selengkapnya bisa dilihat di peta

Minggu, 15 April 2012, pukul 06.00 WITA: aksi cabut paku pada pohon di sepanjang separator Jalan A. P. Pettarani. Dimohon teman-teman untuk membawa peralatan seperti tang, palu, ember, dsbnya.

Rabu-Kamis, 18-19 April 2012, pukul 15.00 WITA: aksi bersih pohon di sepanjang Jalan Hertasning Baru.

Jumat-Sabtu, 20-21 April 2012, pukul 15.00: finishing pemaketan bibit yang akan dibagi pada hari H di kebun #2.

Pada hari H, Minggu 22 April 2012, kita memiliki tiga agenda penting pada hari itu:

Pukul 06.00-08.30 WITA, pembagian bibit yang telah disiapkan sebelumnya, bertempat di Anjungan Pantai Losari.

Pukul 09.00-11.00 WITA, aksi bersih kota di sekitar pelaksanaan Car Free Day di Anjungan Pantai Losari. Diharapkan teman-teman membawa kantong plastik atau kantong mayat dari rumah.

Pukul 15.00 WITA, penanaman bibit pohon pengganti di sepanjang separator/tepi Jalan Hertasning Baru.

Dec 08

Konferensi Nasional Indonesia Berkebun 2011

Penulis : Indah Yuniarty

Editor  : Wahyu

Dokumentasi : @_tule & @ardikidd (Padang Berkebun)

Jumat, 25 November 2011

 Penggiat Makassar Berkebun yang mengikuti Konferensi Indonesia Berkebun di Solo antara lain Indri Seskajuni, Wahyudin Mas’ud, Ashari Ramadhan, Rizky IPWP, Indah Yuniarty, A. Ilmi Utami, dan Syifa Fauzia. Untuk persiapan conference sendiri telah jauh-jauh hari disiapkan berupa materi tentang Makassar Berkebun untuk dipresentasikan di hadapan lebih kurang 20 kota jaringan Indonesia Berkebun. Tidak hanya mengenai Makassar Berkebun, kita juga mengangkat isu Makassar tidak kasar. Untuk menunjukkan kepada masyarakat di luar kota Makassar bahwa Makassar tidaklah kasar. Terlebih belakangan ini cukup sering media-media memberitakan hal-hal negatif. Karena itulah dengan berbagai persiapan kami berangkat menuju Solo.

09.00 WITA

Berangkat membawa nama Makassar tentu saja merupakan suatu kebanggan tersendiri bagi kami. Dan rasanya kurang afdol kalau kita mempresentasikan tanpa menggunakan pakaian khas Makassar. Jadilah 2 orang perwakilan Makassar Berkebun berusaha mencari sepasang baju bodo untuk dikenakan pada saat conference berlangsung. Dan sepasang baju bodo merah akhirnya menjadi pilihan kami. Dan tak pernah kami bayangkan sebelumnya baju bodo inilah yang justru mengangkat nama Makassar di hadapan 20 kota anggota Indonesia Berkebun dan sukses membuat mereka tahu bahwa Makassar Tidak Kasar.

12.30 WITA

Teman-teman perwakilan Makassar Berkebun satu persatu mulai berdatangan di Bandara International Sultan Hasanuddin Makassar. Salah seorang penggiat Makassar Berkebun bertugas mendatangi branch office Express Air di bandara untuk mengambil tiket pesawat tujuan Mks-Jogja-Mks yang sepenuhnya diberikan gratis oleh pihak Express Air selaku sponsor. Kami dari Makassar berangkat 6 orang. Sampai di Solo kita akan bertemu dengan Kakak Indri Seskajuni selaku Penasehat dan Pelindung Makassar Berkebun.

14.30 WITA

Take off Makassar ke Yogyakarta via Surabaya. Dan waktupun berubah menjadi waktu Indonesia Bagian Barat, yang untuk beberapa kali sempat membuat kami terkecoh oleh waktu.

16.30 WIB

Landing di Bandara Adi Sucipto Yogyakarta dan mengejar tiket terakhir kereta ke Solo

17.50 WIB

Lanjut perjalanan menuju Stasiun Solo Balapan dan untuk pertama kalinya kami dengan barang-barang bawaan naik kereta dengan berdiri (pake tanda kutip, bold, dan underlined) Lebay yah kakak … !

18.30 WIB

Sesampai di Stasiun Solo Balapan, kami dijemput oleh Mas Agam dari Solo Berkebun.

19.00 WIB

Sampai di Hotel “Rumah Turi” yang kerennya naudzubillah. Dan akhirnya menghasilkan rasa penasaran untuk berfoto dan berkeliling-keliling menikmati indahnya rumah turi. Bersih-bersih badan terus makan malam di Wedangan Pendhopo dan lanjut kenal-kenalan dengan peserta dari berbagai kota.

23.00 WIB

Kami mempersiapkan goodie bag yang berisi oleh-oleh bibit khas Makassar berupa Cabai Merica,Tomat Keriting dan Markisa. FYI : Goodie bag ini didesain oleh Kakak Syifa Fauzia.

Sabtu, 26 November 2011

06.00 WIB

Karena excitednya kami terhadap keindahan hotel, saat terjaga pagi hari, penulis langsung bangun dan keluar berkeliling hotel menikmati ‘hijau’ rumah turi ini. Saking hijaunya, di lantai 2 hotel ada sebuah lahan yang bisa di tanami seperti konsep ‘roof top garden’ bahkan tanahnya bisa dicangkul selayaknya kebun beneran.

08.00 WIB

Sarapan di restaurant hotel dan bercengkrama dengan wakil-wakil dari setiap kota se Indonesia serta menunggu beberapa perwakilan kota yang baru datang pagi harinya. Setelah itu dilanjut dengan jalan kaki ke Lokasi acara yaitu “Taman Balekambang”. Namun karena banyaknya barang yang kami bawa, sebagian dari kami memilih untuk ikut rombongan mobil. Taman Balekambang adalah sebuah taman kota di Solo yang sebelumnya merupakan “tempat kelam” dan telah diubah dengan sangat hijaunya oleh Walikota Solo Bapak Joko Widodo hingga saat ini menjadi taman kota yang dapat dinikmati oleh seluruh warga Solo sebagai tempat berkumpul dan mengadakan acara-acara rakyat. Saat kami datangpun ada sekelompok ibu-ibu dan pemuda-pemudi yang bergoyang mengikuti irama musik dan tabuh genderang dengan menumbuk alu.

09.00 WIB

Konferensi dimulai dengan presentasi Kang Ridwan Kamil (Penggagas Indonesia Berkebun) mengenai kondisi perkotaan, konsep Urban Farming, dan yang paling menarik adalah tentang “Kebahagiaan Manusia”.

Sedangkan Rizky (I Baso) dan Indah (I Basse) sudah siap dengan Jas Tutup dan Baju Bodonya, mereka pun memasuki ruangan konferensi diiringi tatapan mata para peserta conference.

10.00 WIB

Acara conference ini dirangkaikan dengan Acara THANKS TO NATURE yang diadakan oleh Teh kotak yang secara penuh juga menjadi sponsor tunggal Conference Indonesia Berkebun. seluruh peserta conference keluar ruangan dan turut memeriahkan pembukaan di taman kota. Dan untuk pertama kali I baso dan I besse menjadi pusat perhatian warga Solo dengan pakaian khas Makassar. dan hampir seluruh peserta conference mengajak I baso dan I besse untuk berfoto bersama. jadilah misi pertama membuat foto-foto I baso dan I besse beredar ke seluruh Nusantara berhasil

 11.00 WIB

Tiap kota jaringan Indonesia Berkebun mulai mempresentasikan tentang kota dan kegiatan masing-masing-masing dan menjelang pukul 11 I baso dan I bessepun tampil memukau peserta conference dan sukses membuat semua berpikir bahwa sebenarnya antara I baso dan I besse memiliki ikatan khusus. -___- kasian I baso dan I besse ckckck.. tidak sampai disitu, misi membawa isu Makassar Tidak Kasar juga berhasil. Terbukti dengan beberapa perwakilan kota melalui akun twitter pribadinya atau akun Berkebun kotanya mengupdate bahwa ‘Makassar Tidak Kasar’ dan di akhir presentasi I baso dan I besse, membagi-bagikan oleh-oleh bibit tanaman khas Makassar untuk dapat ditanam di seluruh kota di Indonesia.

Bpk Joko Widodo, Walikota Solo juga hadir dalam Acara Konferensi Nasional Indonesia Berkebun 2011

 13.00 WIB

Istirahat makan siang, Kami dijamu dengan menu-menu khas Solo.

14.00-17.00 WIB

Setelah sesi presentasi dilanjutkan dengan sesi yang lebih serius. Diantaranya beberapa ada Tanya jawab tentang kendala-kendala yang dihadapi dan solusi dalam memulai dan mengembangkan Gerakan Indonesia Berkebun di tiap-tiap kota. Lalu pemilihan kepengurusan nasional Indonesia Berkebun yang setiap kota mengajukan satu nama wakilnya sebagai pengurus Indonesia Berkebun. Untuk Makassar sendiri, kita mengajukan Ashari Ramadhan sebagai wakil Makassar yang akan ditetapkan dan dilantik kepengurusan di bulan Januari 2012. Hari ini juga diputuskan untuk mendaftarkan Indonesia Berkebun sebagai perkumpulan yang berbadan hukum agar memiliki dasar hukum yang kuat dan memudahkan kerjasama sponsorship.

Selesai acara kami lanjut sesi foto di Taman Balekambang beserta seluruh peserta conference. Dan sekali lagi I baso dan I besse sukses didaulat sebagai center spot. Rewako Ewako Makassar. selesai sesi foto dilanjutkan dengan menonton acara Thanks to Nature Solo yang juga dihadiri oleh beberapa komunitas di kota Solo. Dik Doank sebagai bintang tamu tampil memukau dan mengajak kita untuk selalu berpikir positif dan bersyukur kepada Sang Pencipta Alam yang Indah ini. Terakhir lagi-lagi Makassar sukses menunjukkan tajinya atas kesuksesan (halah) Mba Indri Seska  mendapatkan hadiah dari Dik Doank dan Kakak Rama sore itu didaulat untuk mengiringi Dik Doank menyanyikan lagu. Standing applause deh untuk Makassar 😀

Perjalanan pulang dari lokasi acara ke “Rumah Turi” ternyata harus kami tempuh dengan berjalan kaki, lengkap dengan Jas Tutup dan Baju Bodonya. Jadilah I baso dan I besse kembali menarik perhatian warga Solo yang sedang menikmati keindahan dan ketenangan sore kota Solo. Bahkan ada beberapa orang yang bertanya ‘Iki Mantenan toh’ ?      -___-

19.00 WIB

Sampai di hotel, kami masih sempat menikmati jajanan pinggir jalan khas Solo. Selesai mempersiapkan diri, kami berkumpul di restaurant hotel dan berbincang dengan pihak sponsor dalam hal ini teh kotak serta berbagi oleh-oleh camilan khas kota masing-masing. Sayangnya cabai malino,tomat keriting dan biji Markisa tidak bisa di makan, coba bisa mungkin sudah kami persilakan menikmatinya x_x

20.00 WIB

selesai ngobrol dengan pihak sponsor, kami berkeliling kota Solo menikmati keindahan malam yang tenang. Layaknya turis yang tidak tahu arah, kami berjalan kaki hingga menemukan tempat makan. Beberapa peserta dari Jakarta, Surabaya, Depok dan Bandung ikut serta bersama kami. Topik gombalan menjadi cerita kita malam itu. Malam terakhir di Solo yang menjadi kenangan indah dan menyenangkan.

Sesampai di hotel beberapa peserta tampak bersiap-siap akan mengikuti kirab perayaan 1 suro yang diadakan di Keraton Solo. Teman-teman dari kota lain menggunakan pakaian Batik. Sayangnya rasa lelah terlalu melanda fisik kita jadi tidak ada peserta dari Makassar yang turut menyaksikan kirab.

Minggu, 27 november 2011

08.00 WIB

Setelah bangun dan bersiap-siap kami memulai hari dengan sarapan dan kembali melempar gombalan nasional (maksudnya, gombalan lintas kota). Oh iya, ternyata tidak hanya di Makassar Berkebun saja banyak benih-benih cinta bertebaran. Tapi di seluruh kota juga demikian, bahkan sudah ada yang akan melanjutkannya ke jenjang pernikahan ….. Alhamdulillah sesuatu !

Acara dilanjutkan dengan panen perdana Solo Berkebun. Kebun yang di panen ini, merupakan halaman depan rumah salah seorang penggiatnya. Acara panen bareng ini sangat meriah, karena diikuti oleh penggiat dari seluruh kota. Tentu saja bukan urban farming namanya kalau terlalu serius. Setiap selesai memanen bayam selalu diikuti dengan instruksi untuk dilirik kamera. Sadar kamera harus tetap dilestarikan.

Setelah memanen, kami lanjut dengan sharing dan tanya jawab yang dipandu oleh Ibu Ida Amal dari Akademi Berkebun. Terimakasih kepada Mas Imam, tuan rumah yang menghidangkan panganan khas Solo yang rasanya yummy. Juga ada Lasagna yang dibuat sendiri oleh ibu pemilik rumah dan untuk lasagna ini sendiri penulis memakannya dua piring *kalem. Selesai menikmati hidangan, kami dari Makassar tidak bisa berlama-lama karena dengan santainya saat semua peserta sudah check out dari hotel sebelum berangkat panen dan barang-barangnya sudah rapi disimpan di receptionist hotel. Barang-barang kami malah masih terbongkar di kamar.

11.00 WIB

Buru-buru kembali ke hotel, buru-buru packing dan buru-buru ke terminal kereta Solo Balapan.. naudzubillah deh kita siang itu.

11.45 WIB

Kereta yang akan membawa kita menuju Yogyakarta tiba di Stasiun Solo Balapan. Alhamdulillah bisa dibilang penumpang kereta kali ini kosong. Dan kami dapat tempat duduk. Alhamdulillah yah.. sesuatu.

13.20 WIB

Setelah melewati beberapa stasiun dan dengan laju kereta yang lebih pelan daripada waktu kami berangkat pertama akhirnya kita sampai di Stasiun Tugu stasiun yang jaraknya hanya beberapa meter dari pusat keramaian Malioboro atau mungkin sudah masuk wilayahnya Malioboro yah? Maaf kurang paham.

13.50 WIB

Setelah berjalan kaki beberapa meter. Akhirnya kita dapat wisma murah di samping Mall Malioboro (referensi kak Rama yang sudah malang melintang di dunia backpacker). Satu jam pertama yang kami lakukan adalah membuang diri ke kasur dan memasok charge hp yang mulai lowbat.

15.30 WIB

Rasanya sayang sekali kalau kita jauh-jauh dari Makassar ke Yogyakarta dan datang untuk tidur tanpa sempat beli ole-ole (lirik..lirik kakak Rama yang ketiduran malamnya) kami jalan-jalan ke Pasar Beringharjo dan beberapa pusat pertokoan di sekitar Malioboro. Tentu saja ole-ole ini untuk keeluarga, teman-teman dan kekasih hati #kemudianberehemm

18.00 WIB

Kembali ke hotel, ada yang beristirahat sampai akhirnya ketiduran (puk..puk.. kak Rama) ada juga yang solkar jalan sendirian (lirik kakak Rizky dan Kak Indah) *ralat mereka tidak jalan berduaan yah. Tapi jalan masing-masing dengan keluarga dan temannya tawwa.. ß pembenaran. :p

Menjelang pukul 21.00, kami lanjut kopdar di The House of Raminten bersama teman-teman Yogyakarta Berkebun dan Medan Berkebun. Kak Rama sendiri datang agak telat karna dia ketiduran dan dilupakan di wisma (maafkan kami kakak). Tentu saja kopdar ini ditutup dengan sesi pemotretan oleh fotografer dadakan dari The House of Raminten.

04.00 WIB

Baru sempat tertidur 2-3 jam teman-teman perempuan yang tertidur pulas dibangunkan paksa oleh kakak Rama. Dan kami pun bersiap-siap menuju Bandara Adi Sucipto.

04.40 WIB

Check in kemudian menunggu di waiting room Bandara, kembali lagi kita menjadi pengincar colokan. (lirik kakak ilmi yang di manapun kapanpun selalu nempel di colokan)

09.20 WIB

Alhamdulillah.. welcome home.. selamat datang di Bandara International Sultan Hasanuddin Makassar. Kami pulang dengan beragam kisah dan cerita. Kami pulang dengan beragam ilmu yang siap kami bagi.

Sampai jumpa teman-teman penggiat Indonesia Berkebun di Acara Konferensi Nasional Tahun Depan. Semangkaaa … !

Page 6 of 8« First...45678