«

»

Nov 30

Indonesia Berkebun Conference 2013 (Part III)

Penulis : Indah Yuniarty

Sabtu, 16 November 2013

Selamat pagi Bali!
Pagi ini diawali dengan bermain dan olahraga ringan keliling BITDEC. Di sini saya agak terlambat, jadi kurang tahu bagaimana kronologis permainannya. Intinya peserta tidak boleh mengucap kata ‘sudah’ dan ‘belum’, kalau peserta melanggar, peserta wajib memberikan kertas kepada yang bertanya atau yang berhasil menjebaknya. Lalu dilanjutkan dengan permainan seru lainnya. Setelah selesai bermain, peserta diberi kesempatan untuk sarapan dan mandi, kemudian melanjutkan sesi acara berikutnya.

Acara hari Sabtu ini sangat padat dan tanpa henti hingga sore hari. Terbukti dengan silih bergantinya peserta konferensi yang hilang entah kemana. Mungkin ada yang pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka yang dilanda rasa kantuk, atau bahkan mandi untuk menghilangkan kantuknya dan yang paling ampuh adalah kembali ke kamar dan berbincang di alam mimpi.

Sesi pertama adalah keynote speech “Back To Nature oleh Ibu Ida Ayu dan Suami. Beliau sharing tentang pentingnya mengkonsumsi makanan sehat dan mengatur pola hidup sehat. Lalu dilanjut dengan presentasi tiap kota yang belum selesai. Menjelang jam makan siang, sesi Workshop Pararel dimulai. Workshop tentang Akademi Berkebun oleh Ibu Ida Amal dan Strategi Komunikasi dan Sosialisasi menggunakan Social Media secara efektif oleh Kang Shafiq dan Mas Sigit (PR dan admin @IDBerkebun) materi yang sangat menarik dibawakan oleh kang Shafiq dan semoga bisa diterapkan oleh setiap admin media social setiap kota jejaring.

Selepas makan siang, sesi ‘berat’ mulai berlangsung. Peserta lebih banyak tampak berguguran satu per satu disini. Plennary discussion dengan mengangkat tema tentang IDBerkebun dalam hal ini untuk menyamakan visi, misi dan konsep Indonesia Berkebun serta membahas Road Map IDBerkebun juga profesionalisme dan legalisasi hukum untuk Indonesia Berkebun kedepannya. Berat bukan? Tapi ini perlu, mengingat semakin besarnya komunitas kita ini dan semakin banyaknya pihak-pihak yang mencoba memanfaatkan komunitas ini.

Saya melihat bagaimana pembicara mencoba menjelaskan kepada peserta tentang apa yang hendak disepakati dan berusaha meyakinkan peserta bahwa langkah yang akan diambil adalah langkah yang paling tepat. Terbukti dengan kesimpulan akhir ditutup dengan voting. Padahal menurut saya pribadi, tanpa diadakan voting pun kita semua akan setuju dengan keputusan yang akan diambil, terlebih jika hal ini menyangkut kepentingan dan masa depan yang lebih baik untuk komunitas.

Pukul setengah 7 malam, akhirnya sesi diskusi panjang berakhir. Peserta dipersilakan untuk mandi dan makan malam sebelum lanjut ke acara berikutnya. Acara selanjutnya adalah sesi Indonesia Berkebun Award namun entah mengapa sepertinya terlupakan. Kita justru bagi-bagi kenang-kenangan dari beberapa kota hingga saling bertukar kasih. Oh iyya, yang unik di Indonesia Berkebun pasti ada pasangan yang selalu dijodoh-jodohkan. Ada yang kemudian akhirnya berjodoh dan telah menikah, ada yang akan segera menikah, ada yang gagal dan tidak sedikit yang kecewa karena akhirnya gagal dan di PHP/di gantung. Pasangan-pasangan yang berhasilpun masing-masing menyebut diri mereka dengan pasangan buncis, pasangan cabe dan sayuran-sayuran kebun lainnya.

Acara kembali dilanjutkan dengan bakar-bakar jagung dan seluruh peserta mengelilingi api unggun. Sesi ini sebenarnya menampilkan tarian atau atraksi setiap daerah. Tapi entah mengapa, hanya Jakarta Berkebun yang tampak sangat siap. Sebut mereka None Jakarte. Mbak Indri, Mbak Sindhi, Kak Puti, Kak Dina, Kak Azlina dan Kak Erin. Mereka membawakan tarian ‘Ondel-ondel’ lengkap dengan kebaya dan kerudungnya. Sangat menghibur. Sampai-sampai mereka mengulang tarian tersebut atas permintaan peserta yang ingin ikut menari.

Kini giliran Makassar Berkebun mendapat sorakan oleh peserta agar menampilkan tarian Makassar. Kami sempat bingung karena kami memang tidak berniat tampil. Ibu Peri (Mbak Indri) datang menghampiri kami dan meminta agar kami mempersembahkan apapun itu yang penting khas Makassar. Kak Rama dan para Daeng lainnya bersedia menari ‘Gandrang Bulo’ dan para Dara turut menyanyi. Tentunya dengan bantuan YouTube dan support dari Ibu Peri.

Sambil menunggu para Dara dan Daeng berlatih sejenak, ada yang mengajukan untuk Goyang Caesar. Jadilah keriuhan kembali terjadi, seluruh peserta tumpah ruah asyik bergoyang Caesar. Bahkan Ketua Indonesia Berkebun dan PR Indonesia Berkebun ikut bergoyang. Keceriaan tersebar ke seluruh peserta yang ada, kecuali mungkin beberapa peserta yang sedang galau atau jomblo kesepian di malam minggu. Tapi buatku pribadi, saya bahkan tak sadar hari ini malam minggu. Kebersamaan indah se-Indonesia sudah membuatku lupa sekitar, selain kangen pacar tentunya. Uups..

Setelah Goyang Caesar, Makassar Berkebun kembali ditodong untuk menari. Untungnya musik sudah ada dan teman-teman dari Makassar sudah siap tampil malu sekalipun. Melalui Speaker Handphone dibantu oleh mikrophone dari MC, musik pengiring tarian ‘Gandrang Bulo’ pun dimainkan. Para penggiat Makassar mulai menari dan diikuti oleh beberapa peserta lainnya.

Ada juga sesi lomba tercepat makan jagung yang diikuti oleh cowok-cowok ganteng dari setiap kota dan dimenangkan oleh Bembi (Bandar Lampung Berkebun). Hadiahnya berupa ciuman mesra dari ketua IDBerkebun dan PR IDBerkebun. Konyol! Terlebih saat senam ‘Ya iya iyalah’ kembali terputar di hp salah satu peserta dan mengajak seluruh peserta untuk ikut bergoyang mengikuti irama senam dipimpin oleh Mas Sigit yang terlihat sangat luwes memperagakan gerakan senam tersebut.

Dinginnya malam dan rintik hujan mulai semakin menyeruak. Wajah-wajah letih peserta pun menjadi tanda untuk mengakhiri acara malam ini. Tapi berakhirnya malam justru menjadi tanda berawalnya hubungan antarsesama penggiat yang kian akrab. Terlihat dengan semakin banyaknya hastag pasangan yang beredar. #AditMila #EbiRahmi #HasbiRahmi #JackMila #BembiDina #HijrahDina #HijrahAhmad #MaulKidd #GemaAdel#HafidDina #ErnaBara #DeeHafid dan beragam hastag lainnya yang seperti diharapkan oleh bu Ida dapat menjadi pasangan kangkung berikutnya agar di Indonesia Berkebun kita tidak hanya panen sayur tetapi juga panen cinta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>