«

»

Nov 30

Indonesia Berkebun Conference 2013 (Part I)

Penulis : Indah Yuniarty

Bulan Nopember sebenarnya bukan bulan favorit saya. Tidak seperti bulan Januari, Maret, Mei, Agustus, dan Oktober yang memiliki banyak hari libur atau seperti bulan Februari, April, Juni, September, dan Desember yang selalu menjadi bulan menyenangkan. Entah apa alasannya.

Diawali pada tahun 2011 bulan Nopember, konferensi pertama Indonesia Berkebun dilaksanakan, dan Solo yang terletak di provinsi Jawa Tengah mendapat kehormatan menjadi tuan rumah. (Selengkapnya baca disini)

Seperti konferensi pertama, konferensi kedua tahun 2013 (yang diberi tagar #IDBerkebunConf) kembali mengundang para penggiat se-Indonesia, dari ujung barat hingga ujung timur Indonesia. Total jejaring yang mengikuti konferensi yaitu 24 kota termasuk 2 kampus berkebun dari 34 jejaring di Indonesia Berkebun. Penggiat yang mengikuti konferensi tahun ini lebih banyak dari tahun sebelumnya. Selain tambahan beberapa jaringan Indonesia Berkebun , juga Kepulauan Bali yang memiliki magnet tersendiri sebagai kawasan pariwisata Indonesia. Tak heran selama 15-17 Nopember, BITDEC (Bali International Training & Development Center) disesaki hingga 100 orang peserta konferensi.

Apa persiapan kami sebelum mengikuti konferensi?

Indonesia Berkebun memberikan kami kebebasan dalam pencarian subsidi bagi para penggiat. Salah satunya proposal yang dikirimkan ke masing-masing jejaring. Makassar Berkebun merupakan salah satu jejaring ‘tersibuk’, sehingga tak satupun dari kami yang bergerak memasukkan proposal kepada sponsor. Tapi itu tak menyurutkan niat kami untuk turut memeriahkan #IDBerkebunConf 2013. Tidak tanggung-tanggung Makassar Berkebun membawa 18 orang penggiat. Atau bertambah 3 kali lipat banyaknya dari konferensi sebelumnya.

Daeng Makassar Berkebun yaitu Kak Wahyu, Kak Rama, Kak Enal, Kak Jack, Aldy, Ardy, Ceceng, Tri, dan Adhe. Sedangkan Dara Makassar Berkebun yaitu Vby Utami, Syifa, Noyha, mamanya Nhoya, Tami, Yuyun, Kak Nyung, Izzy, saya sendiri (Ain), dan tidak ketinggalan ibu peri kita, Mbak Indri Seska. Sebenarnya masih banyak dara dan daeng Makassar Berkebun yang ingin ikut serta namun terkendala oleh urusan kuliah, kantor, ataupun dana. Maka sebab, itu Kak Wahyu (Ex-Koordinator) berjanji kepada semua penggiat bahwa konferensi berikutnya penggiat Makassar Berkebun harus ikut. Apakah janjinya akan terpenuhi? Tunggu dibagian akhir tulisan ini!

Tak lupa kami membawa buah tangan khas daerah. Cabe katokkon, cabe yang mirip paprika tapi bentuknya lebih kecil tapi tak kalah pedasnya. Cabe yang hanya didapatkan di Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Selain itu, kami mengenakan ‘bando mahkota’ untuk para Dara dan ‘songkok bone’ untuk para Daeng. Itulah yang kami kenakan selama konferensi berlangsung yang merupakan identitas kami, Makassar Berkebun. Dan yang terpenting adalah materi presentase yang dibawakan oleh Kak Wahyu dan Syifa. Sebuah pencapaian Makassar Berkebun selama 2 tahun terakhir.

Kamis, 14 November 2013

Kami (Ain, Syifa, Vby) rombongan pertama Makassar Berkebun tiba di Bali. Saya salah satu panitia konferensi, yang bertugas mendata dan mengatur jadwal kedatangan, kepulangan, dan penjemputan peserta konferensi. Di bandara Ngurah Rai, kami bertemu dengan beberapa penggiat dari kota lain. Ada Kak Ratna dan Kak Asep (Palembang Berkebun), Mbak Dina, Mbak Indri dan Tantil (Jakarta Berkebun), Dede (Untirta Berkebun), Kak Arya (Pontianak Berkebun), serta kak Dyah dan Dwi (Medan Berkebun).

Rombongan terpisah menjadi dua, rombongan pertama ikut bersama Mbak Indri dan diturunkan di penginapan di daerah Kuta. Rombongan kedua ikut bersama Kak Ratna yang dijemput oleh teman lamanya yang berdomisili di Bali. Kami termasuk di rombongan tersebut karena kami sudah berencana untuk menginap bersama. Penginapan kami tidak jauh dari bandara, di daerah Lippo Mall. Di belakang penginapan kami terdapat pantai, jadilah setelah beristirahat dan mandi kami memutuskan untuk berjalan menyusuri pantai tersebut.

Sudah sejam lebih kami berjalan menyusuri pantai tersebut tetapi kami tidak menemukan warung makan yang pas dengan dompet kami. Restoran disepanjang pantai itu hanya dikunjungi oleh wisatawan mancanegara. Tapi kami tak mau kalah, kami menikmati pantai dan semilir angin lautnya. Dan tentu saja kami berfoto untuk mengenang hal seru ini.

Lelah berfoto dan berjalan kaki, akhirnya kami menyerah. Kak Ratna menghubungi temannya untuk mengantarkan kami ke warung makan yang sebelumnya sudah dijelaskan. Ternyata kami berjalan melawan arah. Pujasera, warung makan yang menyediakan berbagai masakan terletak tidak jauh dari tempat kami menginap.

Setelah makan malam, saya dan Vby ke tempat meeting panitia #IDBerkebunConf dan panitia #BaliCommDay13. Dengan bermodalkan motor pinjaman teman Kak Ratna serta ditunjukkan jalan, kami pun sampai. Meeting-nya sudah berjalan sedari tadi, membahas rundown acara. Panitia sangat kompak. Dalam hati saya bangga bisa duduk bersama orang-orang hebat ini.

Tak lama kemudian pertemuan malam itu berakhir. Seluruh panitia sudah mengetahui tanggungjawabnya masing-masing. Kami pulang bersama Mbak Indri yang mengendarai mobil berisikan beberapa panitia. Kami mengikuti mobilnya sampai di daerah Kuta karena takut nyasar lagi. Dan akhirnya kami tetap nyasar. Tidak ada panduan Google Maps, yang ada hanya GPS (gunakan penduduk sekitar). Sudah dua kali kami berputar di tempat yang sama. Kami menyerah dan bertanya kepada pak polisi yang memang menahan kami karena ada pemeriksaan surat kelengkapan bermotor. Kami heran, kami tidak ditilang padahal kami tidak menggunakan helm. Kalau hal ini terjadi di Makassar, bisa ribet urusannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>